Oneday, sepupuku di Banjar telpon, nanya tentang Campah Susu. Hah,.. campak??? Eh, setelah dijelaskan manifest klinisnya, ternyata itu adalah Dermatitis Atopik.
Dermatitis Atopik (DA) pada beberapa tempat disebut ruam susu atau campah susu. Ini merupakan penyakit kulit reaksi inflamasi yang
didasari oleh faktor herediter dan faktor lingkungan, bersifat kronik
residif dengan gejala eritema, papula, vesikel, kusta, skuama dan
pruritus yang hebat. Bila residif biasanya disertai infeksi, atau
alergi, faktor psikologik, atau akibat bahan kimia atau iritan.Dermatitis atopik ini umumnya dimulai pada awal masa kanak-kanak. Eksema
dapat menyebabkan gatal yang tidak tertahankan, peradangan, dan
gangguan tidur. Penyakit ini dialami sekitar 10-20% anak. Umumnya
episode pertama terjadi sebelum usia 12 bulan dan episode-episode
selanjutnya akan hilang timbul hingga anak melewati masa tertentu.
Sebagian besar anak akan sembuh dari eksema sebelum usia 5 tahun.
Sebagian kecil anak akan terus mengalami eksema hingga dewasa.
ETIOLOGI DAN PATOGENESIS
Sampai saat ini etiologi maupun mekanisme yang pasti DA belum
semuanya diketahui, demikian pula pruritus pada DA. Tanpa pruritus
diagnosis DA tidak dapat ditegakkan. Rasa gatal dan rasa nyeri sama-sama
memiliki reseptor di taut dermoepidermal, yang disalurkan lewat saraf C
tidak bermielin ke saraf spinal sensorik yang selanjutnya diteruskan ke
talamus kontralateral dan korteks untuk diartikan. Rangsangan yang
ringan, superfisial dengan intensitas rendah menyebabkan rasa gatal,
sedangkan yang dalam dan berintensitas tinggi menyebabkan rasa nyeri.
Sebagian patogenesis DA dapat dijelaskan secara imunologik dan
nonimunologik.
- Multifaktor DA mempunyai penyebab multi faktorial antara lain faktor genetik, emosi, trauma, keringat, imunologik
- Respon Imun Sistemik Terdapat IFN-g yang menurun.
Interleukin spesifik alergen yang diproduksi sel T pada darah perifer
(interleukin IL-4, IL-5 dan IL-13) meningkat. Juga terjadi Eosinophilia
dan peningkatan IgE.
- Imunopatologi Kulit Pada DA, sel T yang infiltrasi ke
kulit adalah CD45RO+. Sel T ini menggunakan CLA maupun reseptor lainnya
untuk mengenali dan menyeberangi endotelium pembuluh darah. Di pembuluh
darah perifer pasien DA, sel T subset CD4+ maupun subset CD8+ dari sel T
dengan petanda CLA+CD45RO+ dalam status teraktivasi (CD25+, CD40L+,
HLADR+). Sel yang teraktivasi ini mengekspresikan Fas dan Fas ligand
yang menjadi penyebab apoptosis. Sel-sel itu sendiri tidak menunjukkan
apoptosis karena mereka diproteksi oleh sitokin dan protein extracellular matrix (ECM). Sel-sel T tersebut mensekresi IFN g yang melakukan upregulation Fas pada keratinocytes dan menjadikannya peka terhadap proses apoptosis di kulit. Apoptosis keratinocyte diinduksi oleh Fas ligand yang diekspresi di permukaan sel-sel T atau yang berada di microenvironment
- Respon imun kulit Sel-sel T baik subset CD4+
maupun subset CD8+ yang diisolasi dari kulit (CLA+ CD45RO+ T cells)
maupun dari darah perifer, terbukti mensekresi sejumlah besar IL-5 dan
IL-13, sehingga dengan kondisi ini lifespan dari eosinofil
memanjang dan terjadi induksi pada produksi IgE. Lesi akut didominasi
oleh ekspresi IL-4 dan IL-13, sedangkan lesi kronik didominasi oleh
ekspresi IL-5, GM-CSF, IL-12, dan IFN-g serta infiltrasi makrofag dan
eosinofil.
- Genetik Pengaruh gen maternal sangat kuat. Ada peran
kromosom 5q31-33, kromosom 3q21, serta kromosom 1q21 and 17q25. Juga
melibatkan gen yang independen dari mekanisme alergi. Ada peningkatan
prevalensi HLA-A3 dan HLA-A9. Pada umumnya berjalan bersama penyakit
atopi lainnya, seperti asma dan rhinitis. Resiko seorang kembar
monosigotik yang saudara kembarnya menderita DA adalah 86%.
REAKSI IMUNOLOGIS DERMATITIS ATOPIK
Sekitar 70% anak dengan DA mempunyai riwayat atopi dalam keluarganya
seperti asma bronkial, rinitis alergi, atau dermatitis atopik. Sebagian
besar anak dengan DA (sekitar 80%), terdapat peningkatan kadar IgE total
dan eosinofil di dalam darah. Anak dengan DA terutama yang moderat dan
berat akan berlanjut dengan asma dan/atau rinitis alergika di kemudian
hari (
allergic march), dan semuanya ini memberikan dugaan bahwa dasar DA adalah suatu penyakit atopi.
Ekspresi sitokin
Keseimbangan sitokin yang berasal dari Th1 dan Th2 sangat berperan
pada reaksi inflamasi penderita Dermatitis Atopik (DA). Pada lesi yang
akut ditandai dengan kadar Il-4, Il-5, dan Il-13 yang tinggi sedangkan
pada DA yang kronis disertai kadar Il-4 dan Il-13 yang lebih rendah,
tetapi kadar Il-5, GM-CSF (
granulocyte-macrophage colony-stimulating factor), Il-12 dan INFg lebih tinggi dibandingkan pada DA akut.
Anak dengan bawaan atopi lebih mudah bereaksi terhadap antigen
lingkungan (makanan dan inhalan), dan menimbulkan sensitisasi
terhadap reaksi hipersentivitas tipe I. Imunitas seluler dan
respons terhadap reaksi hipersensitivitas tipe lambat akan menurun pada
80% penderita dengan DA, akibat menurunnya jumlah limfosit T sitolitik
(CD8+), sehingga rasio limfosit T sitolitik (CD 8+) terhadap limfosit T
helper (CD4+) menurun dengan akibat kepekaan terhadap infeksi virus,
bakteri, dan jamur meningkat.
Di antara mediator yang dilepaskan oleh sel mast, yang berperan pada
pruritus adalah vasoaktif amin, seperti histamin, kinin, bradikinin,
leukotrien, prostaglandin dan sebagainya, sehingga dapat dipahami bahwa
dalam penatalaksanaan DA, walaupun antihistamin sering digunakan, namun
hasilnya tidak terlalu menggembirakan dan sampai saat ini masih banyak
silang pendapat para ahli mengenai manfaat antihistamin pada DA.
Trauma mekanik (garukan) akan melepaskan TNF-a dan sitokin
pro inflammatory lainnya di epidermis, yang selanjutnya akan meningkatkan kronisitas DA dan bertambah beratnya eksema.
Antigen Presenting Cells
Kulit penderita DA mengandung sel Langerhans (LC) yang mempunyai
afinitas tinggi untuk mengikat antigen asing (Ag) dan IgE lewat reseptor
FceRI pada permukaannya, dan beperan untuk mempresentasikan alergen ke
limfosit Th2, mengaktifkan sel memori
Th2 di kulit dan yang juga berperan mengaktifkan Th0 menjadi Th2 di dalam sirkulasi.
Faktor non imunologis
Faktor non imunologis yang menyebabkan rasa gatal pada DA antara lain
adanya faktor genetik, yaitu kulit DA yang kering (xerosis). Kekeringan
kulit diperberat oleh udara yang lembab dan panas, banyak berkeringat,
dan bahan detergen yang berasal dari sabun. Kulit yang kering akan
menyebabkan nilai ambang rasa gatal menurun, sehingga dengan rangsangan
yang ringan seperti iritasi wol, rangsangan mekanik, dan termal akan
mengakibatkan rasa gatal.
FAKTOR-FAKTOR PENCETUS
Makanan
Berdasarkan hasil
Double Blind Placebo Controlled Food Challenge (
DBPCFC),
hampir 40% bayi dan anak dengan DA sedang dan berat mempunyai riwayat
alergi terhadap makanan. Bayi dan anak dengan alergi makanan umumnya
disertai uji kulit (
skin prick test) dan kadar IgE spesifik
positif terhadap pelbagai macam makanan. Walaupun demikian uji kulit
positif terhadap suatu makanan tertentu, tidak berarti bahwa penderita
tersebut alergi terhadap makanan tersebut, oleh karena itu masih
diperlukan suatu uji eliminasi dan provokasi terhadap makanan tersebut
untuk menentukan kepastiannya.
Alergen hirup
Alergen hirup sebagai penyebab DA dapat lewat kontak, yang dapat
dibuktikan dengan uji tempel, positif pada 30-50% penderita DA, atau
lewat inhalasi. Reaksi positif dapat terlihat pada alergi tungau debu
rumah (TDR), dimana pada pemeriksaan in vitro (RAST), 95% penderita DA
mengandung IgE spesifik positif terhadap TDR dibandingkan hanya 42% pada
penderita asma di Amerika Serikat. Perlu juga diperhatikan bahwa DA
juga bisa diakibatkan oleh alergen hirup lainnya seperti bulu binatang
rumah tangga, jamur atau
ragweed di negara-negara dengan 4 musim.
Infeksi kulit
Penderita dengan DA mempunyai tendensi untuk disertai infeksi kulit oleh kuman umumnya
Staphylococcus aureus, virus dan jamur. Stafilokokus dapat ditemukan pada 90% lesi penderita DA dan jumlah koloni bisa mencapai 10
7 koloni/cm
2 pada bagian lesi tersebut. Akibat infeksi kuman Stafilokokus akan dilepaskan sejumlah toksin yang bekerja sebagai superantigen,
mengaktifkan
makrofag dan limfosit T, yang selanjutnya melepaskan histamin. Oleh
karena itu penderita DA dan disertai infeksi harus diberikan kombinasi
antibiotika terhadap kuman stafilokokus dan steroid topikal.
MANIFESTASI KLINIS

- Umumnya gejala DA timbul sebelum bayi berumur 6 bulan, dan jarang
terjadi di bawah usia 8 minggu. Dermatitis atopik dapat menyembuh dengan
bertambahnya usia, tetapi dapat pula menetap bahkan meluas dan memberat
sampai usia dewasa. Terdapat kesan bahwa makin lama dan makin berat
dermatitis yang diderita semasa bayi makin besar kemungkinan dermatitis
tersebut menetap sampai dewasa, sehingga perjalanan penyakit dermatitis
atopik sukar diramalkan.
- Terdapat tiga bentuk klinis dermatitis atopik, yaitu bentuk infantil, bentuk anak, dan bentuk dewasa.
- Bentuk infantil Secara klinis berbentuk dermatitis
akut eksudatif dengan predileksi daerah muka terutama pipi dan daerah
ekstensor ekstremitas. Bentuk ini berlangsung sampai usia 2 tahun.
Predileksi pada muka lebih sering pada bayi yang masih muda, sedangkan
kelainan pada ekstensor timbul pada bayi sel sudah merangkak. Lesi yang
paling menonjol pada tipe ini adalah vesikel dan papula, serta garukan
yang menyebabkan krusta dan terkadang infeksi sekunder. Gatal merupakan
gejala yang mencolok sel bayi gelisah dan rewel dengan tidur yang
terganggu. Pada sebagian penderita dapat disertai infeksi bakteri maupun
jamur.
- Bentuk anak Seringkali bentuk anak
merupakan lanjutan dari bentuk infantil, walaupun diantaranya terdapat
suatu periode remisi. Gejala klinis ditandai oleh kulit kering (xerosis)
yang lebih bersifat kronik dengan predileksi daerah fleksura
antekubiti, poplitea, tangan, kaki dan periorbita.
- Bentuk dewasa DA bentuk dewasa
terjadi pada usia sekitar 20 tahun. Umumnya berlokasi di daerah lipatan,
muka, leher, badan bagian atas dan ekstremitas. Lesi berbentuk
dermatitis kronik dengan gejala utama likenifikasi dan skuamasi.
- Stigmata pada dermatitis atopik Terdapat beberapa gambaran klinis dan stigmata yang terjadi pada DA, yaitu:
- ‘White dermatographism’ Goresan
pada kulit penderita DA akan menyebabkan kemerahan dalam waktu 10-15
detik diikuti dengan vasokonstriksi yang menyebabkan garis berwarna
putih dalam waktu 10-15 menit berikutnya.
- Reaksi vaskular paradoksal Merupakan
adaptasi terhadap perubahan suhu pada penderita DA. Apabila ekstremitas
penderita DA mendapat pajanan hawa dingin, akan terjadi percepatan
pendinginan dan perlambatan pemanasan dibandingkan dengan orang normal.
- Lipatan telapak tangan Terdapat pertambahan mencolok lipatan pada telapak tangan meskipun hal tersebut bukan merupakan tanda khas untuk DA.
- Garis Morgan atau Dennie Terdapat lipatan ekstra di kulit bawah mata.
- Sindrom ‘buffed-nail’ Kuku terlihat mengkilat karena selalu menggaruk akibat rasa sangal gatal.
- ‘Allergic shiner’ Sering
dijumpai pada penderita penyakit alergi karena gosokan dan garukan
berulang jaringan di bawah mata dengan akibat perangsangan melanosit dan
peningkatan timbunan melanin.
- Hiperpigmentasi Terdapat daerah hiperpigmentasi akibat garukan terus menerus.
- Kulit kering Kulit penderita DA
umumnya kering, bersisik, pecah-pecah, dan berpapul folikular
hiperkeratotik yang disebut keratosis pilaris. Jumlah kelenjar sebasea
berkurang sehingga terjadi pengurangan pembentukan sebum, sel
pengeluaran air dan xerosis, terutama pada musim panas.
- ‘Delayed blanch’ Penyuntikan
asetilkolin pada kulit normal menghasilkan keluarnya keringat dan
eritema. Pada penderita atopi akan terjadi eritema ringan dengan delayed blanch. Hal ini disebabkan oleh vasokonstriksi atau peningkatan permeabilitas kapiler.
- Keringat berlebihan Penderita DA cenderung berkeringat banyak sehingga pruritus bertambah.
- Gatal dan garukan berlebihan Penyuntikan
bahan pemacu rasa gatal (tripsin) pada orang normal menimbulkan gatal
selama 5-10 menit, sedangkan pada penderita DA gatal dapat bertahan
selama 45 menit.
Variasi musim
Mekanisme terjadinya eksaserbasi sesuai dengan perubahan musim belum
difahami secara menyeluruh. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa
kelembaban nisbi tinggi musim baik pada kekeringan kulit penderita DA.
Pada daerah dengan kelembaban nisbi tinggi musim panas berpengaruh
buruk, sedangkan lingkungan sejuk dan kering akan berpengaruh baik pada
kulit penderita DA.
DIAGNOSIS
- Hanifin dan Lobitz (1977) menyusun petunjuk yang sekarang diterima
sebagai dasar untuk menegakkan diagnosis DA Mereka mengajukan berbagai
macam kriteria yang dibagi dalam kriteria mayor dan kriteria minor.
- Kriteria minimal untuk menegakkan diagnosa DA meliputi pruritus dan
kecenderungan dermatitis untuk menjadi kronik atau kronik residif dengan
gambaran morfologi dan distribusi yang khas.
- Dermatitis atopik dikenal sebagai gatal yang menimbulkan kelainan
kulit, bukan kelainan kulit yang menimbulkan gatal. Tetapi belum ada
kesepakatan pendapat mengenai hal ini, karena pada pengamatan, lesi di
muka dan punggung bukan diakibatkan oleh garukan, selain itu dermatitis
juga terjadi pada bayi yang belum mempunyai mekanisme gatal-garuk.
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Telah dilaporkan pelbagai hasil laboratorium penderita DA, walaupun
demikian sulit untuk menghubungkan hasil laboratorium ini dengan defek
yang ada.
- Imunoglobulin IgG, IgM, IgA dan IgD
biasanya normal atau sedikit meningkat pada penderita DA. Tujuh persen
penderita DA mempunyai kadar IgA serum yang rendah, dan defisiensi IgA
transien banyak dilaporkan pada usia 3-6 bulan. Kadar IgE meningkat pada
80-90% penderita DA dan lebih tinggi lagi bila sel asma dan rinitis
alergika. Tinggi rendahnya kadar IgE ini erat hubungannya dengan berat
ringannya penyakit, dan tinggi rendahnya kadar IgE tidak mengalami
fluktuasi baik pada saat eksaserbasi, remisi, atau yang sedang mendapat
pengobatan prednison atau azatioprin. Kadar IgE ini akan menjadi normal
6-12 bulan setelah terjadi remisi.
- Leukosit
- Limfosit Jumlah limfosit absolut
penderita alergi dalam batas normal, baik pada asma, rinitis alergilk,
maupun pada DA Walaupun demikian pada beberapa penderita DA berat. dapat
disertai menurunnya jumlah sel T dan meningkatnya sel B.
- Eosinofil Kadar eosinofil pada
penderita DA sering meningkat. Peningkatan ini seiring dengan
meningkatnya IgE, tetapi tidak seiring dengan beratnya penyakit.
- Leukosit polimorfonuklear (PMN) Dari hasil uji nitro blue tetrazolium (NBT) ternyata jumlah PMN biasanya dalam batas normal.
- Komplemen Pada penderita DA kadar komplemen biasanya normal atau sedikit meningkat.
- Bakteriologi Kulit penderita DA aktif biasanya mengandung bakteri patogen, seperti Staphylococcus aureus. walaupun tanpa gejala klinis infeksi.
- Uji kulit dan provokasi Diagnosis DA
ditegakkan hanya berdasarkan gejala klinis. Untuk mencari penyebab
timbulnya DA harus disertai anamnesis yang teliti dan bila perlu dengan
uji kulit serta uji eliminasi dan provokasi. Korelasi uji kulit hanya
baik hasilnya bila penyebabnya alergen hirup. Untuk makanan dianjurkan
dengan uji eliminasi dan provokasi. Reaksi pustula terhadap 5% nikel
sulfat yang diberikan dengan uji tempel dianggap karakteristik untuk DA
oleh beberapa pengamat. Patogenesis reaksi pustula nikel fosfat ini
belum diketahui walaupun data menunjukkan reaksi iritan primer.
DIAGNOSIS BANDING
- Dermatitis Kontak Alergi
- Dermatophytosisataur dermatophytids
- Sindrom defesiensi imun
- Sindrom Wiskott-Aldrich
- Sindrom Hyper-IgE
- Penyakit Neoplastik
- Langerhans’ cell histiocytosis
- Penyakit Hodgkin
- Dermatitis Numularis
- Skabies
- Dermatitis Seborrheic
- Skabies Pada bayi gejala klinis DA terutama mulai
dari pipi dan tidak mengenai telapak tangan serta kaki. Tanda skabies
pada bayi ditandai dengan papula yang relatif besar (biasanya pada
punggung atas), vesikel pada telapak tangan dan kaki, dan terdapat
dennatilis pruritus pada anggota keluarga. Tungau dan telur dapat dengan
mudah ditemukan dari scraping vesicle. Skabies memberi respons yang baik terhadap pengobatan dengan γ-benzen heksaklorida.
- Dermatitis seboroik infantil Penyakit
ini dibedakan dari DA dengan: (1) pruritus ringan, (2) onset invariabel
pada daerah pantat halus, tidak bersisik, batas jelas, merah terang,
dan (3) sisik kuning gelap pada pipi, badan dan lengan. Dermatitis
seboroik infantil sering berhubungan dengan dermatitis atopik. Pada
suatu penelitian, 37% bayi dengan dermatitis seboroik akan menjadi DA
5-13 tahun kemudian.
- Dermatitis kontak Anak yang lebih tua dengan DA
dapat menjadi eksema kronik pada kaki. Bentuk ini harus dibedakan dengan
dermatitis kontak karena sepatu.
KOMPLIKASI
- Pada anak penderita DA, 75% akan disertai penyakit alergi lain di
kemudian hari. Penderita DA mempunyai kecenderungan untuk mudah mendapat
infeksi virus maupun bakteri (impetigo, folikulitis, abses, vaksinia. Molluscum contagiosum dan herpes).
- Infeksi virus umumnya disebabkan oleh Herpes simplex atau
vaksinia dan disebut eksema herpetikum atau eksema vaksinatum. Eksema
vaksinatum ini sudah jarang dijumpai, biasanya terjadi pada pemberian
vaksin varisela, baik pada keluarga maupun penderita. lnfeksi Herpes
simplex terjadi akibat tertular oleh salah seorang anggota keluarga.
Terjadi vesikel pada daerah dermatitis, mudah pecah dan membentuk
krusta, kemudian terjadi penyebaran ke daerah kulit normal.
- Penderita DA, mempunyai kecenderungan meningkatnya jumlah koloni Staphylococcus aureus.
PENGOBATAN
- Dermatitis atopik umumnya tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat
dikontrol. Sebagian penderita mengalami perbaikan sesuai dengan
bertambahnya usia. Langkah yang penting adalah menjalin hubungan baik
dengan orang tua penderita, menjelaskan mengenai penyakit tersebut
secara rinci, termasuk perjalanan penyakit, dampak psikologis,
prognosis, dan prinip penatalaksanaan. Langkah pertama dalam
penatalaksanaan penderita DA adalah menghindari atau sedikitnya
mengurangi faktor penyebab, misalnya eliminasi makanan, faktor inhalan,
atau faktor pencetus sel Walaupun masih kontroversial ternyata Ibayi
yang memperoleh air susu ibu lebih jarang menderita DA dibandingkan bayi
yang memperoleh pengganti air susu ibu.
- Penghindaran faktor alergen pada bayi berumur kurang dari l tahun
akan mengurangi beratnya gejala. DA. Maka dianjurkan agar bayi dengan
riwayat keluarga alergi memperoleh hanya ASI sediIkitnya 3 bulan, bila
mungkin 6 bulan pertama dan ibu yang menyusui dianjurkan untuk tidak
makan telur, kacang tanah, terigu, dan susu sapi. Susu sapi diduga
merupakan alergen kuat pada bayi dan anak, maka bagi mereka yang jelas
alergi terhadap susu dapat dipergunakanbangkan untuk menggantinya dengan
susu kedelai, walaupun kemungkinan alergi terhadap susu kedelai masih
ada. \60% penderita DA di bawah usia 2 tahun memberikan reaksi positif
pada uji kulit terhadap telur, susu, ayam, dan gandum. Reaksi positif
ini akan menghilang dengan bertambahnya usia. Walaupun pada uji kulit
positif terhadap antigen makanan tersebut di atas, belum tentu
mencerminkan gejala klinisnya. Demikian pula hasil uji provokasi,
sehingga membatasi makanan anak tidak selalu berhasil untuk mengatasi
penyakitnya.
- Membutuhkan terapi yang integral dan sistemik, meliputi hidrasi kulit, terapi topikal, identifikasi dan eliminasi faktor penyebab dan pencetus dan bila perlu terapi sistemik.
- Penatalaksanaan dasar diberikan untuk semua kasus baik yang ringan,
sedang maupun berat, berupa berupa perawatan kulit, hidrasi,
kortikosteroid topikal, antihistamin, tars, antibiotik bila perlu,
identifikasi dan eliminasi faktor-faktor pencetus kekambuhan.
- Perawatan Kulit Hidrasi adalah terapi DA
yang esensial. Dasar hidrasi yang adekuat adalah peningkatan kandungan
air pada kulit dengan cara mandi dan menerapkan sawar hidrofobik. untuk
mencegah evaporasi. Mandi selama 15-20 menit 2 kali sehari tidak
menggunakan air panas dan tidak menambahkan oil (minyak) karena
mempengaruhi penetrasi air. Sabun dengan moisturizers disarankan
Setelah mandi memberihkan sisa air dengan handuk yang lembut. Bila
perlu pengobatan topikal paling baik setelah mandi karena penetrasi obat
jauh lebih baik. Pada pasien kronik diberikan 3-4 kali sehari dengan water-in-oil moisturizers sediaan lactic acid.
- Pengobatan topikal adalah untuk mengatasi kekeringan kulit dan
peradangan. Mengatasi kekeringan kulit atau memelihara hidrasi kulit
dapat dilakukan dengan mandi memakai sabun lunak tanpa pewangi. Meskipun
mandi dikatakan dapat memperburuk kekeringan kulit, namun berguna untuk
mencegah terjadi infeksi sekunder. Jangan menggunakan sabun yang
bersifat alkalis dan sebaliknya pakailah sabun atau pembersih yang
mempunyai pH 7,0. Pemberian pelembab kulit penting untuk menjaga hidrasi
antara lain dengan dasar lanolin, krim air dalam minyak, atau urea 10%
dalam krim. Untuk mengatasi peradangan dapat diberikan krim
kortikosteroid. Penggunaan kortikosteroid topikal golongan kuat
sebaiknya berhati-hati dan tidak digunakan di daerah muka. Apabila
dermatitis telah teratasi maka secepatnya pengobatan dialihkan pada
penggunaan kortikosteroid golongan lemah atau krim pelembab. Untuk
daerah muka sebaiknya digunakan krim hidrokortison 1%.
- Dengan pengobatan topikal yang baik dapat dicegah penggunaan
pengobatan sistemik. Karena perjalanan penyakit DA adalah kronik dan
residif, maka untuk pemakaian kortikosteroid topikal maupun sistemik
untuk jangka panjang sebaiknya diamati efek samping yang mungkin
terjadi. Bila dengan kortikosteroid topikal tidak adekuat untuk
menghilangkan rasa gatal dapat ditambahkan krim yang mengandung mental,
fenol, lidokain, atau asam salisilat. Bila dengan pengobatan topikal ini
tetap tidak adekuat, maka dapat dipertimbangkan pemberian pengobatan
sistemik
- Kortikosteroids topikal Kortikosteroid topikal
mempunyai efek antiinflamasi, antipruritus, dan efek vasokonstriktor.
Yang perlu diperhatikan pada penggunaan kortikosteroid topikal adalah:
segera setelah mandi dan diikuti berselimut untuk meningkatkan
penetrasi; tidak lebih dari 2 kali sehari; bentuk salep untuk kulit
lembab bisa menyebabkan folikulitis; bentuk krim toleransinya cukup
baik; bentuk lotion dan spray untuk daerah yang
berambut; pilihannya adalah obat yang efektif tetapi potensinya
terendah; efek samping yang harus diperhatikan adalah: atropi,
depigmentasi, steroid acne dan kadang-kadang terjadi absorbsi sistemik dengan supresi dari hypothalamic-pituitary-adrenal axis;
bila kasus membaik, frekuensi pemakaian diturunkan dan diganti dengan
yang potensinya lebih rendah; bila kasus sudah terkontrol, dihentikan
dan terapi difokuskan pada hidrasi.
- Antihistamin Untuk mengurangi rasa gatal dapat
diberikan antihistamin (H1) seperti difenhidramin atau terfenadin, atau
antihistamin nonklasik lain. Kombinasi antihistamin H1 dengan H2 dapat
menolong pada kasus tertentu. Pada bayi usia muda, pemberian sedasi
dengan kloralhidrat dapat pula menolong. Penggunaan obat lain seperti
sodium kromoglikat untuk menstabilkan dinding sel mast dapat memberikan
hasil yang memuaskan pada 50% penderita.
- Penggunaan kortikosteroid oral sangat terbatas, hanya pada kasus
sangat berat dan diberikan dalam waktu singkat, misalnya prednison
0,5-1,0 mg/kgBB/hari dalam waktu 4 hari.
- Merupakan terapi standar, tetapi belum tentu efektif untuk
menghilangkan rasa gatal karena rasa gatal pada DA bisa tak terkait
dengan histamin.
- Tars Mempunyai efek anti-inflamasi dan sangat
berguna untuk mengganti kortikosteroid topikal pada manajemen penyakit
kronik. Efek samping dari tar adalah folikulitis, fotosensitisasi dan
dermatitis kontak.
- Antibiotik sistemik Antibiotik sistemik dapat
dipertimbangkan untuk mengatasi DA yang luas dengan infeksi sekunder.
Antibiotik yang dianjurkan adalah eritromisin, sefalosporin,
kloksasilin, dan terkadang ampisilin Infeksi di curigai bila ada krusta yang luas, folikulits, pioderma dan furunkulosis. S. aureus yang resisten penisilin merupakan penyebab tersering dari flare
akut. Bila diduga ada resistensi penisilin, dicloxacillin atau
sefalexin dapat digunakan sebagai terapi oral lini pertama. Bila alergi
penisilin, eritromisin adalah terapi pilihan utama, dengan perhatian
pada pasien asma karena bersama eritromisin, teofilin akan menurunkan
metabolismenya. Pilihan lain bila eritomisin resisten adalah
klindamisin.. Dari hasil pembiakan dan uji kepekaan terhadap
Staphylococcus aureus 60% resisten terhadap penisilin, 20% terhadap
eritromisin, 14% terhadap tetrasiklin, dan tidak ada yang resisten
terhadap sefalosporin Imunoterapi dengan ekstrak inhalan umumnya tidak
menolong untuk mengatasi DA pada anak.
- Identifikasi dan eliminasi faktor-faktor eksaserbasi Sabun dan baju yang bersifatiritatif dihindari. Baju iritatif dari wol dihindari. Demikian juga
keringat dapat juga mengiritasi kulit. Stres sosial dan emosional juga
harus dihindari. Eliminasi alergen makanan, binatang dan debu rumah.
Selain manajemen dasar dilaksanakan pada DA berat terapi imunomodulasi sudah harus dilaksanakan.
- Kortikosteroid sistemik. Efek perbaikannya cepat, tetapi flare yang parah sering terjadi pada steroid withdrawal. Bila tetap harus diberikan, tapering dan perawatan intensif kulit harus dijalankan.
- Thymopentin. Untuk
dapat mengurangi gatal-gatal dan eritem digunakan timopentin subkutan 10
mg/ dosis 1 kali/hari selama 6 minggu, atau 3 kali/minggu selama 12
minggu.
- Interferon-gamma. Dosis yang digunakan g /m2/ hari subkutan diberikan selama 12 minggu.ug-100uantara 50
- Siklosporin A. Pemberian per oral 5 mg/kg/hari selama 6 minggu. Dapat pula diberikan secara topikal dalam bentuk salep atau gel 5%.
- Tacrolimus. Digunakan takrolimus 0,1 % dan 0,03 %
topikal dua kali sehari. Obat ini umumnya menunjukan perbaikan pada
luasnya lesi dan rasa gatal pada minggu pertama pengobatan. Tacrolimus
tidak mempengaruhi fibroblasts sehingga tidak menyebabkan atropi kulit.
- Pimecrolimus Pemakaian pimecrolimus 1,0 % mereduksi gejala sebesar 35 %.
- Gammaglobulin Bekerja sebagai antitoksin, antiinflamasi dan anti alergi. Pada DA Gammaglobulin intravena (IVIG) adalah terapi yang sangat mahal, namun harus dipertimbangkan pada kasus kasus khusus.
- Probiotik Lactobacillus rhamnosus GG 1 kapsul (109) kuman/dosis dalam 2 kali/hari memperbaiki kondisi kulit setelah 2 bulan.
Perlakuan khusus diperlukan untuk penderita DA Berat. Penentuan
gradasi berat-ringannya DA dapat mempergunakan kriteria Rajka dan
Langeland sebagaimana tabel berikut :
|
I. Luasnya lesi kulit |
|
|
fase anak/dewasa |
|
|
< 9% luas tubuh 1 |
|
9-36% luas tubuh 2 |
|
> 36 % luas tubuh 3 |
|
fase infantil |
|
|
< 18% luas tubuh 1 |
|
18-54% luas tubuh 2 |
|
> 54% luas tubuh 3 |
|
II. Perjalanan penyakit |
|
|
remisi > 3 bulan/tahun 1 |
|
remisi < 3 bulan/tahun 2 |
|
Kambuhan 3 |
|
III. Intensitas penyakit |
|
|
gatal ringan, gangguan tidur + 1 |
|
gatal sedang, gangguan tidur + 2 |
|
gatal berat, gangguan tidur + 3 |
|
|
|
|
|
|
|
Penilaian skor
- 3-4 : ringan
- 5-7 : sedang
- 8-9 : berat
source: http://www.childrenallergyclinic.wordpress.com